ARTI HUBUNGAN INTERNASIONAL

Untuk yang ini, khusus bagi mereka yang menginginkan suatu pengenalan yang lebih mendalam soal HI. Bisa dijadikan referensi koq coz gue buat berdasarkan referensi yang juga bisa dipercaya. Tau ga, ada 6 referensi buku lho yang gue pake buat bikin tulisan ini!(hahaha,,,nyombong dikit!).

Banyak orang mengartikan hubungan internasional sebagai hubungan yang dilakukan oleh aktor negara maupun aktor nonnegara yang melintasi batas-batas negara tersebut. Padahal, masih ada banyak pertanyaan tentang apa itu hubungan internasional di mana masing-masing pertanyaan tersebut menginginkan sebuah jawaban yang sesuai dengan pertanyaan mereka tentang hubungan internasional itu sendiri.

Meskipun akan banyak muncul jawaban yang bervariasi dari pertanyaa itu dengan masing-masing referensinya, ada dua pemikiran besar yang mampu menaungi semua jawaban itu yaitu hubungan internasional sebagai fenomena sosial dan hubungan internasional sebagai ilmu. Perang, damai, hubungan antar negara, diplomasi, negosiasi, perdagangan bebas, pasar bersama, perjanjian, krisis ekonomi, bahkan ajang pertandingan olahraga merupakan fenomena-fenomena sosial yang menjadi contoh nyata adanya hubungan internasional yang bisa kita jumpai dalam kehidupan seharí-hari. Dengan kata lain yang dimaksud hubungan internasional sebagai fenomena sosial adalah hubungan-hubungan lintas batas negara yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari atau menggunakan term dari Jackson dan Sorensen yaitu Internasional Relations in Everyday Life.[1]

Fenomena sosial tersebut sebagai bukti betapa besar relevansi dari hubungan internasional terhadap kehidupan umat manusia, karena tanpa kita sadari bahwa seluruh populasi dunia yang berjumlah 6 milyar dan terbagi ke dalam sekitar 190 negara. Hal ini mengakibatkan seluruh aktivitas yang terjadi antar dan di dalam negara-negara tersebut akan mempunyai dampak tidak langsung dan langsung terhadap kehidupan kita sebagai individu. Relevansi ini kemudian memunculkan kedudukan hubungan internasional sebagai ilmu, yaitu hubungan internasional menjadi suatu institusi sosial dan menjadi suatu cara untuk membuat pengetahuan atau Science is a social institution and a way to produce knowledge.[2] Hal ini terjadi ketika fenomena-fenomena tersebut dipelajari di dalam kelas dan memenuhi juga syarat theory-building, yaitu keberadaan kajian ontologi dan memiliki sejarah perkembangan.[3]

Secara kontekstual, suatu ilmu dibangun oleh teori-teori yang mendukungnya. Oleh karena itu, Studi Hubungan Internasional sebagai ilmu sangat berhubungan dengan theory-buildingnya (teori yang membangunnya). Kajian ontologi dari hubungan internasional dapat dibedakan menjadi dua yaitu negara dan non-negara (state actor dan non-state actor). Yang dimaksud dengan state actor, atau disebut juga aktor negara, dapat dirujuk kepada pasal 1 Konverensi Montevideo (1933) yang menyatakan bahwa negara yaitu:

  • Memiliki wilayah tertentu / define territory
  • Memiliki penduduk tetap / permanent population
  • Memiliki pemerintah yang berdaulat
  • Memiliki kemampuan memasuki hubungan dengan negara lain
  • Kedaulatan (termasuk di dalamnya keberadaan sebuah pengakuan yang diberikan oleh negara lain kepada negara tersebut.)

Sedangkan yang dimaksud dengan non-state actor adalah pelaku-pelaku hubungan internasional selain negara seperti organisasi internasional ( PBB, Greenpeace, Palang Merah Internasional, dll )

Syarat Filsafat Ilmu berikutnya adalah memiliki sejarah perkembangan. hubungan internasional pada mulanya bercita – cita ingin menciptakan keadaan yang lebih teratur. Pada tahun 1919, hubungan internasional mulai dilembagakan sebagai jurusan politik internasional di Universitas Wales di kota Aberystwythes atas ide dari Woodrow Wilson dengan penyandang dana David Davis dan sebagai ketua jurusannya adalah Alfred Zimmern yang juga merupakan profesor Hubungan Internasional yang pertama. Dari sinilah perkembangan hubungan internasional mengawali perjalanannya sebagai ilmu.

Pembedaan ini dilakukan oleh Chris Brown dalam bukunya ‘International Relations theory, a new normative theory”. Cita – cita awal dibentuknya jurusan hubungan internasional adalah untuk meniadakan perang dan berusaha menciptakan perdamaian di dunia ini. Tujuan yang idealis ini dipelopori oleh Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson setelah melihat dampak negatif dari Perang Dunia Pertama ( 1914-1918 ) bagi umat manusia, di mana perang hanyalah menghasilkan kematian dan penderitaaan baik itu bagi pihak pemenang maupun bagi pihak yang kalah perang. Menurut Wilson, cara untuk menciptakan perdamaian dan mencegah terjadinya kembali perang antarnegara besar adalah dengan membentuk kondisi dunia yang safe for democracy[4], kondisi yang akan tercipta dari program fourteen point-nya. Kepercayaan Wilson dan para penstudi hubungan internasional pada saat itu akan rasionalitas manusia dan lembaga supranasional yang kemudian memuncul pendekatan yang pertama dalam Studi Hubungan Internasional yaitu idealisme. Pedekatan idealisme ini mendominasi Studi Hubungan Internasional pada periode 1920-an.[5]

Namun pada periode 1930-an, pendekatan ini semakin sulit menjelaskan fenomena hubungan internasional yang terjadi, di mana perdamaian sulit dicapai, malah peperangan yang semakin meluas di berbagai belahan bumi ini. Jerman dan Italia muncul menjadi pusat negara rasisme dan fasisme yang menebar peperangan di seluruh dunia, kemudian Liga Bangsa-bangsa yang diharapkan menjadi organisasi Supranasional tidak mampu berbuat apa-apa. Krisis inilah mengawali munculnya pendekatan baru dalam Studi Hubungan Internasional yaitu pendekatan realisme, Edward Hallet Carr ‘The Twenty Years Crisis’ ( 1939 ) yang menyebutkan bahwa krisis ini timbul karena kesalahan pendekatan idealisme dalam memandang hubungan internasional yang terjadi. Seharusnya hubungan internasional di pandang dari pendekatan realisme yaitu hubungan internasional itu merupakan hubungan konlik yang dilandasi oleh sifat buruk manusia. Carr menambahkan pendekatan dalam Studi Hubungan Internasional yang ada terlalu utopis dan terlalu mengutamakan moral sementara kenyataannya berbeda. Carr berpendapat agar Studi Hubungan Internasional lebih dekat pada hal- hal yang lebih realis[6].


[1] Robert Jackson dan George Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. New York: Oxford University Press, hal. 2

[2] Neuman W. Lawrence. 1991. Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. United State: Allyn and Bacon, hal 5-7

[3] James N. Rosenau. 1980. The Scientific Study of Foreign Policy. London : Frances Pinter, hal. 19-31

[4] J. Vasques. 1996. Classics of International Relations. Upper Saddle River: Prentice Hall, hal. 35-40

[5] Robert Jackson dan George Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. New York: Oxford University Press, hal. 35-40

[6] Paul R Viotti dan Mark V. Kauppi ( 1999 ), International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism, and Beyond. United State: Allyn and Bacon, hal. 62-64

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s